Bacaan Niat dan Cara Qadha Puasa Ramadan, Segera Tuntaskan

Ayulike.com, Jakarta Memahami bacaan niat dan cara qadha puasa Ramadan, wajib bagi yang tak bisa melaksanakan ibadah puasa dalam satu bulan penuh. Bulan Ramadan adalah bulan suci bagi umat Islam. Menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan wajib dilaksanakan sesuai surat Al-Baqarah ayat 184.

Untuk bacaan niat dan cara qadha puasa Ramadan tidak jauh berbeda dengan puasa Ramadan. Niat wajib dibaca pada malam hari sebelum puasa di keesokan harinya. Pendapat ini sesuai dengan mahzab Imam Syafi’i. Bacaan niatnya adalah diganti dengan niat qadha puasa Ramadan, bukan lagi puasa Ramadan.

Bila sudah memahami bacaan niat dan cara qadha puasa Ramadan, perhatikan waktu pelaksanaan dan jumlah yang wajib diganti. Waktu pelaksanaan mengganti puasa Ramadan boleh kapan saja, tetapi harus didahulukan daripada puasa sunnah lain, ya. Jumlah yang wajib diganti adalah sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan.

Segera tuntaskan sebelum sampai pada bulan Ramadan tahun selanjutnya, ya! Berikut Liputan6.com ulas bacaan niat dan cara qadha puasa Ramadan dari berbagai sumber, Senin (5/4/2021).

Bacaan Niat Qadha Puasa Ramadan

Bagi yang memiliki hutang puasa ramadan, wajib menggantinya. Berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 184, wajib mengganti puasa sebanyak hari yang telah ditinggalkan.

Allah SWT berfirman, ” … maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib baginya mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin … “ (QS. Al-Baqarah: 184).

Untuk yang akan mengganti puasa Ramadan, pahami bacaan niat dan cara qadha puasa ramadan yang sesuai tuntunan. Menurut Mazhab Syafi’I, bacaan niat dan cara qadha puasa ramadan adalah wajib berniat di malam hari. Adapun berikut ini adalah bacaan niat qadha puasa Ramadan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

Misalnya, seorang muslim tidak bisa puasa Ramadhan selama 7 hari. Maka ia wajb menggantinya dengan jumlah sama, yakni 7 hari juga. Begitu pula dengan total jumlah lainnya.

Cara Qadha Puasa Ramadan untuk Golongan yang Diwajibkan

Hamil dan Menyusui

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Ahmad, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah SWT pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil, dan wanita menyusui.”

Cara qadha puasa Ramadan bagi ibu hamil ada ketentuannya. Apabila ibu yang sedang mengandung dan menyusui tidak mampu berpuasa, Allah meringankan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di kemudian hari.

Sementara satu golongan yang dilarang untuk berpuasa adalah wanita dalam keadaan haid dan nifas. Rasulullah SAW bersabda dalam Hadis Riwayat Bukhari, “Bukankah ketika haid, wanita itu tidak shalat dan juga tidak puasa. Inilah kekurangan agamanya.”

Wanita yang haid dan nifas dilarang berpuasa selama masa haid dan nifas tersebut. Namun, mereka tetap harus mengganti puasa di kemudian hari.

Orang Sakit

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”

Orang sakit yang diizinkan tidak berpuasa adalah orang sakit yang apabila menjalankan puasa, dapat memperparah kondisi yang bersangkutan. Meski tidak berpuasa, namun orang tersebut harus membayar puasanya tersebut.

Musafir

Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar melihat orang yang berdesak-desakan. Lalu ada seseorang yang diberi naungan.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa ini?” Orang-orang pun mengatakan, “Ini adalah orang yang sedang berpuasa.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah suatu yang baik seseorang berpuasa ketika dia bersafar.”

Jadi, apabila seseorang yang melakukan perjalanan jauh saat berpuasa diizinkan untuk tidak berpuasa apabila kondisinya berat dan menyulitkan. Namun, orang tersebut wajib mengganti puasanya di kemudian hari.

Lansia

Orang tua yang tidak mampu menjalankan puasa diberi kelonggaran untuk tidak berpuasa. Sebagai gantinya, orang tersebut diwajibkan untuk membayar fidyah yaitu dengan memberi makan fakir miskin setiap kali orang tersebut tidak berpuasa.

Baca juga 5 Tanda Datangnya Malam Lailatul Qadar

Allah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 184, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”

Cara qadha puasa Ramadan bagi lansia tidak diwajibkan. Sebagai gantinya, orang lanjut usia bisa membayar fidyah. Adapun ukuran satu fidyah adalah setengah sho’, kurma atau gandum atau beras, yaitu sebesar 1,5 kg beras.

Cara Qadha Puasa Ramadan untuk Waktu Pelaksanaan

Cara qadha puasa Ramadan boleh dilakukan kapan saja. Perlu dijadikan catatan, makruh hukumnya jika mendahulukan puasa sunah daripada puasa qadha. Cara qadha puasa Ramadan dengan mendahulukan puasa sunnah di sini, misalnya puasa Senin dan Kamis. Lalu puasa Syawal, Ayyamul Bidh, Tasu’a, Asyura, Daun, dan lainnya.

Dalam kitab Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shiyam dinukilkan oleh penulisnya bahwa Imam Abu Hanifah berkata, “kewajiban meng-qadha puasa Ramadhan adalah kewajiban yang lapang waktunya tanpa ada batasan tertentu, walaupun sudah masuk Ramadhan berikutnya.”

Pelaksanaan cara qadha puasa Ramadan adalah secara berurutan atau tidak dapat dilihat dari beberapa pendapat berikut.

Pendapat pertama, cara qadha puasa Ramadan menyatakan puasa qadha harus dilaksanakan secara berurutan karena puasa yang ditinggalkan juga berurutan. Namun belum ada hadits yang shahih tentang pendapat ini.

Pendapat kedua, cara qadha puasa Ramadan menyatakan pelaksanaan qadha puasa tidak harus dilakukan secara berurutan. Tidak ada satupun dalil yang menyatakan bahwa puasa qadha harus dilaksanakan secara berurutan.

“Qadha (puasa) Ramadhan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan.” (HR. Daruquthni)

Cara Qadha Puasa Ramadan untuk Jumlahnya

Berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 184, cara qadha puasa Ramadan berdasarkan jumlahnya, wajib mengganti puasa sebanyak hari yang telah ditinggalkan. Misalnya, seorang muslim tidak bisa puasa Ramadhan selama 7 hari.

Maka cara qadha puasa Ramadan wajib menggantinya dengan jumlah sama, yakni 7 hari. Begitu pula cara qadha puasa Ramadan dengan total jumlah lainnya. Untuk yang lupa dengan jumlah puasa yang ditinggalkan, maka cara qadha puasa Ramadan ambil jalan tengahnya.

Menentukan jumlah hari yang paling maksimum. Contohnya jika seseorang lupa apakah ia harus mengqadha puasa sebanyak 5 atau 6 hari. Maka sebaiknya ia memilih yang keenam. Karena lebih dalam berpuasa lebih baik daripada kurang.

Cara Qadha Puasa Ramadan dengan Menggabungkan

Cara qadha puasa Ramadan bisa dilakukan dengan menggabungkan dengan puasa lain. Menggabungkan puasa qadha dan puasa lain (sunnah) sah hukumnya.

Beruntung, kamu bisa mendapatkan pahala dari masing-masing puasa itu (wajib dan sunnah). Cara qadha puasa Ramadan ini dijelaskan oleh Syeikh Zainuddin Al Malibari dalam kitab Fathul Mu’in.

“Dan dikecualikan dengan pensyaratan ta’yin (menentukan jenis puasa) dalam puasa fardu, yaitu puasa sunah, maka sah berpuasa sunah dengan niat puasa mutlak, meski puasa sunah yang memiliki jangka waktu sebagaimana pendapat yang dipegang oleh lebih dari satu ulama.”

Pendapat cara qadha puasa Ramadan dengan menggabungkan ini dikuatkan oleh Syeikh Abubakar bin Syatha dalam I’anatuth Thalibin, seperti dikutip dari laman Nahdlatul ‘Ulama.

“Ucapan Syekh Zainuddin, meski puasa sunah yang memiliki jangka waktu, ini adalah ghayah (puncak) keabsahan puasa sunah dengan niat puasa mutlak, maksudnya tidak ada perbedaan dalam keabsahan tersebut antara puasa sunah yang berjangka waktu seperti puasa Senin-Kamis, Arafah, Asyura’ dan hari-hari tanggal purnama. Atau selain puasa sunah yang berjangka waktu, seperti puasa yang memiliki sebab, sebagaimana puasa istisqa’ dengan tanpa perintah imam, atau puasa sunah mutlak.”

Bacaan Doa Buka Puasa Qadha Ramadan

Sama seperti puasa ramadan. Pada saat menjalankan puasa ganti (qadha) untuk membayar hutang puasa yang pernah ditinggalkan, kamu akan menikmati momen berbuka puasa. Ada dua doa berbuka puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Berikut kedua doa buka untuk cara qadha puasa Ramadan:

Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari Rasulullah, berikut adalah doa berbuka puasa yang pertama:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.

“Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki” (Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, nomor 2357])

Adapun doa berbuka puasa kedua yang merupakan atsar dari perkataan Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أنْ تَغْفِرَ لِيْ

Allahumma inni as-aluka bi rohmatikal latii wasi’at kulla syain an taghfirolii-ed.

“Ya Allah, aku memohon rahmatmu yang meliputi segala sesuatu, yang dengannya engkau mengampuni aku” (HR Ibnu Majah: 1/557, nomor 1753; dinilai hasan oleh al-Hafizh dalam takhrij beliau untuk kitab al-Adzkar; lihat Syarah al-Adzkar: 4/342).

Fahmi Permana
TERUSLAH BEKERJA KERAS. Sampai kamu tidak perlu memperkenalkan dirimu lagi pada siapa pun.