Agar investasi kripto tak sekadar latah

Investasi aset kripto makin melonjak di masa pandemi.

Investasi pada aset cryptocurrency atau komoditas kripto kini tengah banyak digandrungi. Investor enggan melewatkan kesempatan mendulang cuan berkali-kali lipat.

Di tengah popularitas kripto yang semakin melambung, konsekuensi yang mengikutinya pun tidak terbendung. Termasuk, bermunculannya investasi bodong berkedok aset kripto seperti pada E-Dinar Coin Cash (EDCCash) yang diklaim sebagai platform untuk menambang aset digital.

Seorang Crypto Enthusiast, Fajar Widi santai saja menyikapi hal tersebut. Dia bilang, investasi kripto yang abal-abal sebetulnya bisa dikenali dengan cukup mudah. Kuncinya, investor mesti paham soal dasar dari investasi kripto dan telah menelusuri kredibilitas serta jejak rekam dari penyedia kripto.

“Kita menganalisa yang bohongan dan beneran itu gampang. Kalau aku sih lihat, siapa CEO-nya. Dia punya reputasi dan project apa,” ujar Fajar saat berbincang dengan Alinea.id, Selasa (4/5).

Selain cermat melihat latar belakang penyedia aset kripto, menurut Fajar, platform kripto yang menawarkan investasi tersebut semestinya juga jelas. Pun begitu dengan skema yang ditawarkan.

User experiencenya itu harus dipikirkan benar-benar,” imbuhnya.

Fajar bisa dikatakan sebagai salah seorang influencer dalam bidang investasi termasuk kripto. Dia sering membagikan pengalaman serta pengetahuan seputar investasi kripto dan retail investment di instagram pribadinya @ifajarwidi yang kini memiliki sebanyak 13 ribuan pengikut.

Pria asal Jawa tengah ini, sudah mulai menekuni dunia investasi aset digital ini sejak 2017. Saat ini, aset digital bitcoinnya bahkan sudah menembus lebih dari Rp900 jutaan dari modal awal hanya Rp30 juta.

Uniknya, Bitcoin yang diinvestasikan tersebut adalah mahar pernikahan Fajar untuk istri sekitar tiga tahun lalu. Ia berniat tak menjual komoditas digital itu. Dia percaya, Bitcoin merupakan komoditas yang semakin langka nantinya sehingga akan semakin tinggi nilainya.

“Siapa tahu 10 atau 20 tahun lagi, Bitcoin bisa jadi Rp2 atau Rp3 Miliar. Ya uang dingin aja kan awalnya, siapa tau nanti bisa buat dana pensiun,” katanya.

Lelaki yang pernah bekerja di bidang pemasaran dan industri media ini, tak memungkiri dunia aset kripto memang sangat fluktuatif. Namun, keuntungan yang menggiurkan bahkan bisa naik ribuan persen itu memang menjadi daya pikat tersendiri. Asalkan, investor harus memegang prinsip agar tidak gegabah.

“Enggak ada instrumen investasi yang bisa kayak gini. Dan adopsinya cepat, masif, bisa dipakai trading dan investasi,” kata Fajar.

Selama ini, dia membeli aset kripto untuk investasi dan trading. Fajar memilih Bitcoin dan Ethereum sebagai investasi jangka panjangnya. Sedangkan, untuk trading yang jangka pendek dia biasanya memilih koin-koin yang relatif lebih terjangkau harganya (altcoins).

Sebagai informasi, Ethereum sudah reli sejak awal April 2021. Ethereum berada di kisaran harga US$3.059 per koin dan dalam sepekan terakhir harganya sudah naik 24,95%. Dengan kapitalisasi pasar mencapai US$353,52 miliar, Ethereum disebut-sebut sebagai pesaing Bitcoin.

Ilustrasi cryptocurrency. Pixabay.com.

Ethereum bahkan telah menggerus valuasi Bitcoin menjadi 46% dari total valuasi pasar aset kripto yang mencapai US$2,3 triliun. Padahal awal tahun ini dominasi Bitcoin masih berkisar 70%.

Saat terjun di dunia kripto ini, Fajar mengaku dirinya dilatih untuk menyusun strategi serta manajemen yang baik. Fajar juga menetapkan tujuan atau standar investasi tersendiri. Makanya, ia tidak mudah goyah saat nilai mata uang kriptonya naik ataupun turun.

Hal tersebut utamanya dia lihat saat momen pandemi Covid-19 ini. Ia pun melihat fenomena FOMO (fear of missing out) untuk investasi mata uang kripto.

“Kebanyakan orang belum kenal kripto itu, ikut-ikutan doang. Karena temannya cuan. Tapi, basic enggak ngerti. Padahal kan risikonya sangat tinggi,” tambahnya.

Manajemen yang baik, menurut Fajar, bisa dilakukan dengan kehati-hatian dalam membagi alokasi investasi. Dia mencontohkan, memulai investasi kripto dengan ‘uang dingin’ sebesar Rp100 juta, kemudian menargetkan cuan 50% dan berhasil. Maka, modalnya bisa diambil dan hasil keuntungannya bisa diputar lagi.

Di sisi lain, pemahaman dan kejelian soal fundamental investasi di aset kripto ini juga diperlukan. Utamanya, membaca situasi global dengan tetap memperhatikan kehati-hatian.

“Apakah fundamental pernah meleset? Ya sering juga, karena underlyingnya enggak clear,” ujarnya.

Tak adanya patokan yang jelas saat berinvestasi mata uang kripto juga diakui oleh Willy. Investor kripto pemula era pandemi ini, tidak mau berspekulasi. Dia lebih memilih untuk pelan-pelan berinvestasi sambil belajar.

“Baru masuk Januari 2021, bulan Mei ini saldo sekitar Rp3 juta-an, tapi lumayan udah untung 50% lah,” ujar Willy kepada Alinea.id, Selasa (4/5).

Ia mengaku kepincut investasi kripto karena rekan di lingkungan kerjanya ramai-ramai tanam dana di aset kripto. Karyawan swasta di Jakarta ini pun penasaran dan akhirnya ikut investasi.

Dia juga menjadikan mata uang kripto sebagai alternatif investasi yang bisa menguntungkan dibandingkan instrumen lain. Termasuk, pasar modal yang tengah dilanda kelesuan.

“Enggak sampai mengalihkan, tapi alternatif. Aku yang reksa dana tetap, ya nambah kripto,” katanya.

Secara pribadi, analisanya untuk investasi di kripto berdasarkan pada perkembangan situasi global. Dia pun optimistis tren perkembangan kripto masih cemerlang. Apalagi, berbagai perhatian pemerintah semakin besar untuk menguatkan ekosistem kripto ini.

“Aku sih belum mau lepas ya, lihat aja nanti,” imbuhnya.

Popularitas melonjak

Minat investor untuk berinvestasi aset kripto termasuk Bitcoin memang semakin meningkat. Di Indonesia, aset kripto masuk ke dalam komoditas yang perdagangannya ada di bawah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Sejak diterbitkannya Peraturan Bappebti Nomor 5 Tahun 2019 pada Februari 2019, sampai dengan bulan April 2021 Bappebti mencatat jumlah pelanggan aset kripto yang aktif bertransaksi di Pedagang Aset Kripto sekitar 4,8 juta pelanggan dengan nilai transaksi sekitar Rp126 Triliun.

Adapun pergerakan harga aset kripto khususnya Bitcoin dari 1 Januari 2021 hingga 3 Mei 2021 mengalami kenaikan sebesar 104% atau dari harga Rp412.280.080 naik menjadi Rp840.003.141. Sebagai catatan, dalam tiga bulan terakhir harga Bitcoin sempat mencapai Rp944.109.380 pada tanggal 14 April 2021.

Pada kuartal-I 2020, dana investor yang masuk ke cryptocurrency mencapai US$3,9 miliar atau meningkat sebesar 11% dibandingkan kuartal-I 2021. Ini menjadi rekor inflow tertinggi sepanjang masa, seperti dilansir dari Reuters, Rabu (7/4/2021).

Salah satu platform jual beli aset kripto terbesar di Indonesia, Indodax, mencatat setidaknya volume transaksi Bitcoin sudah mencapai kenaikan di atas Rp1 triliun. Angka ini melonjak tinggi saat masa pandemi, jauh dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar Rp100 miliar.

“Peminat bertambah karena investasi lain pada turun, dan orang beralih ke Indodax, pemahaman orang tentang Bitcoin juga meningkat dan jumlah kripto yang dilisting juga bertambah,” ujar PR Indodax, Gemal Panggabean melalui pesan tertulis kepada Alinea.id, Senin (15/2).

Hingga saat ini, Indodax memiliki sebanyak 114 kripto dengan nilai tukar IDR dan 7 kripto dengan nilai tukar USDT (USD crypto). Totalnya, ada 121 kripto listing di Indodax.

“Di Indodax saja yang 114. Total kripto itu sekitar seratus ribuan di seluruh dunia,” kata dia.

CEO Indodax Oscar Darmawan menambahkan, saat ini, Indodax merupakan perusahaan crypto asset exchange yang memiliki member paling banyak di Indonesia, yaitu 2,5 juta member.

Merujuk pada proyeksi Bloomberg, Oscar menyebut, kenaikan fantastis Bitcoin dan aset kripto lainnya kemungkinan akan berlanjut tahun ini.

“Tahun ini, masih menjadi tahun bullish Bitcoin, Ethereum dan lain-lain. Diharapkan dengan itu trading contest jadi lebih menarik tahun ini,” ujar oscar kepada Alinea.id, Senin (15/2).

Menyoal perkembangan pesat aset kripto termasuk bitcoin ini, Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo sempat menyampaikan kekhawatirannya. Bitcoin yang menjadi primadona sesungguhnya juga belum dianggap sebagai instrumen finansial yang diakui oleh Bank Indonesia sebagai alat pembayaran atau sarana transaksi.

Ilustrasi. Pixabay.com.

“Secara pribadi ada sedikit kekhawatiran dari saya terkait hal ini. Walau saya belum tahu secara pasti seberapa besar penetrasi Bitcoin di Indonesia,” ujar Laksono pada 12 April 2021 lalu.

Namun, indikasi investor ritel yang beralih dari investasi di pasar modal ke Bitcoin di saat bersamaan juga menguat. Sebab sepanjang periode April ini, nilai transaksi bursa saham domestik, secara rata-rata turun menjadi hanya Rp9 triliun dari Januari lalu yang sempat di kisaran Rp20 triliun per harinya.

Investor saham beralih ke kripto?

Pengamat Komoditas Ariston Tjendra mengatakan sinyalemen investor saham berpindah ke kripto ini memang bisa saja terjadi. Ini disebabkan oleh kenaikan harga Kripto yang luar biasa sehingga mampu mengundang perhatian para pelaku pasar.

“Sebagian pelaku pasar mungkin mengalihkan sebagian investasinya untuk mencoba peruntungan di kripto,” ujar Ariston kepada Alinea.id, Senin (3/5).

10 Mata uang kripto dengan tren kenaikan harga terbesar tahun 2021. (Diolah dari berbagai sumber).
Aset kripto Kode Performa Valuasi
Dogecoin DOGE 8.039% US$45 miliar atau Rp655 triliun
ButTorrent BTT 2.500% US$5 miliar atau Rp72,8 triliun
Terra LUNA 2.348% US$6 miliar atau Rp87 triliun
Solana SOL 1.602% US$7 miliar atau Rp101 triliun
Binance Coin BNB 1.260% US$79 miliar atau Rp1.150 triliun
FTX Token FTT 830% US$5 miliar atau Rp72,8 triliun
VeChain VET 804% US$13 miliar atau Rp189 triliun
Cardano ADA 703% US$46 miliar atau Rp669 triliun
IOTA IOT 686% US$7 miliar atau Rp101 triliun
Filecoin FIL 657% US$12 miliar atau Rp174 triliun

Ariston melanjutkan, sebagian investor saham juga menggunakan dana yang tertahan akibat IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang masih lesu untuk menjajal kripto tersebut. Di sisi lain investor institusi juga mungkin menunggu momen tren kenaikan harga saham.

“Investor institusi biasanya yang menggerakkan pasar karena jumlah kepemilikan saham atau dana yang besar,” jelasnya.

Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas juga berpendapat adanya indikasi trader saham beralih ke investasi kripto mengingat IHSG tengah lesu. Ini berkaitan dengan kondisi perekonomian serta perkembangan kasus Covid-19 yang belum membaik selama pandemi.

Imbasnya, investor bisa saja melirik kripto yang relatif menggiurkan.

“Pasar saham lagi dalam tren konsolidasi dengan kecenderungan turun. Makanya bisa jadi pindah ke crypto dulu,” jelas Sukarno kepada Alinea.id, Selasa (4/5).

Tantangan dan peluang kripto

Penetrasi mata uang kripto sebagai investasi memang masih banyak tantangan. Utamanya di Indonesia. Investor kripto seperti Fajar menilai pemerintah masih cenderung lambat dalam menyikapi dinamika kripto yang ada, baik di skala nasional maupun global.

Dia mencontohkan, ada beberapa mata uang kripto yang banyak dikenal secara global namun masih belum diakui di Indonesia. Sehingga, investor asal Indonesia terbatas dan terhambat.

“Pemerintah kita terlalu lambat, sangat lambat, kripto itu adopsi teknonya cepat, usernya, tradernya itu semakin bertambah, kita masih berkutat yang benar dan tidak benar,” ujar Fajar Widi.

Di sisi lain, baik Fajar maupun Willy sebagai investor kripto sama-sama sepakat, bahwa ekosistem investasi kripto ini memang perlu semakin diperkuat. Salah satunya, melalui edukasi serta perluasan wadah berjejaring sesama crypto enthusiast.

Baca Juga : Bisnis Online Modal Investasi Yang Menguntungkan

Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Pasar Bappebti, Suhadi memastikan pihaknya memberikan kepastian hukum dan berusaha bagi anak bangsa berinovasi membuka usaha termasuk sebagai pedagang Aset Kripto. Selain itu juga memberikan keamanan  bagi nasabah/investor yang berminat menginvestasikan dananya  dalam aset kripto.

“Ini ada di peraturan yang dikeluarkan Bappebti terkait aset kripto memberikan ruang untuk industri 4.0 berkembang di Indonesia,” ujarnya kepada Alinea.id pada pertengahan Februari 2021 lalu.

Sebagai upaya memberikan perlindungan, menurut Suhadi, Bappebti juga berupaya dalam pencegahan penggunaan aset kripto untuk tujuan ilegal seperti pencucian uang dan pendanaan terorisme serta pengembangan senjata pemusnah masal.

“Ini merupakan amanat UU Tindak Pidana Pencucian Uang dan UU Tindak Pidana Pendanaan Terorisme,” imbuhnya.

Upaya perlindungan ini juga ditunjukkan dengan penentuan 229 jenis aset kripto yang diakui pemerintah melalui Bappebti. Ini diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 7 Tahun 2020 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

Suhadi mengingatkan para pemula yang ingin berinvestasi atau bertransaksi aset kripto untuk berhati-hati. Selain itu, perlu memperhatikan pedagang aset kripto yang menawarkan asset kripto apakah sudah mendapat tanda daftar atau persetujuan dari Bappebti.

Fahmi Permana
TERUSLAH BEKERJA KERAS. Sampai kamu tidak perlu memperkenalkan dirimu lagi pada siapa pun.